Penulis: M Reza A Sadik
Oligarki dan pemangku kebijakan terus memperkuat kendali ekonomi mereka untuk menundukkan daya pikir Intelektual, memastikan agar gerakan kontra Sistem tidak berkembang. Dalam skema Ini, Kampus seharusnya menjadi ruang perlawanan dan mengkritik justru kampus dikooptasi menjadi alat produksi tenaga kerja yang tunduk pada “Logika Kapitalisme Ekstraktif”.
Menurut Andre Gorz, Kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi tenaga kerja, Tetapi juga menciptakan ketergantungan yang menghambat kebebasan berpikir. Kampus dibiarkan dan dikelola oleh kepentingan “Tambang” akan berubah menjadi Institusi yang mencetak “Kapitalis Kecil,” bukan pada agen perubahan.
1. (Andre Gorz) Kampus Sebagai Alat Produksi Kapitalisme Ekstraktif
Andre Gorz menjelaskan, bagaimana kapitalisme menyusup Ke Institusi Pendidikan dengan menjadikannya bagian dari rantai produksi. Dalam kasus Ini, program Kampus yang terlibat dalam Industri Tambang bukanlah bentuk Pemberdayaan. Tetapi alat untuk memastikan bahwa Mahasiswa dan Akademisi menjadi bagian dari “Sistem Eksploitasi”.
Pendapatan Ekonomi yang merosot sering kali dijadikan alasan untuk menerima kerja sama dengan Industri Ekstraktif. Namun, Di balik Itu, ada bahaya besar. Sala satunya Kampus kehilangan Otonominya, Rektor berpotensi menjadi kaki tangan “Elit Nasional”. Dan Mahasiswa diarahkan untuk mendukung kebijakan yang merusak lingkungan.
2. Dalam teorinya (Andre Gorz) “Otonomi Kampus Yang Dikorbankan Demi Kepentingan Oligarki”.
(“Ecologie et Politique & Critique of Economic Reason”)
Oligarki dan Kapitalisme selalu mencari cara untuk menormalkan Eksploitasi sumber daya. Salah satu strategi yang digunakan adalah menyusup Ke dalam Kampus melalui kerja sama ekonomi. Jika Akademisi menerima skema Ini, Mereka tidak lagi menjadi suara Kritis, Tetapi menjadi bagian dari struktur kekuasaan yang bersekongkol dengan Industri.
Menurut Gorz, Ketika Pendidikan hanya berorientasi pada pasar, Ia kehilangan fungsinya sebagai alat pembebasan. Kampus yang menerima “Tambang” bukan hanya mengkhianati ilmu pengetahuan, Tetapi juga tunduk pada kepentingan modal yang merusak Lingkungan dan Budaya Lokal.
3. (Petaka Lingkungan Dan Hancurnya Mata Pencaharian Tradisional)
Sejarah telah menunjukkan bahwa tambang selalu membawa dampak Ekologis yang mengerikan. Penyerobotan tanah Deforestasi dan Erosi menjadi ancaman nyata bagi masyarakat lokal. Dengan masuknya tambang ke dalam Kampus, Mahasiswa tidak diajarkan intuk menolak Eksploitasi Ini, Tetapi kustru dilatih untuk menjadi bagian darinya.
Gorz mengkritik mitos pertumbuhan Ekonomi dalam Kapitalisme. Tambang sering dianggap sebagai solusi Ekonomi, Tetapi pada akhirnya hanya menguntungkan segelintir Elit sambil menghancurkan masa depan Ekologi dan kesejahteraan rakyat.
4. Kapitalisme Akademik: (Mencetak “Kapitalis Kecil” Dari Kampus)
Dalam skema ini, Kampus tidak lagi menjadi benteng perlawanan, Tetapi berubah menjadi “Pabrik Kapitalis Kecil” melahirkan Individu-Individu yang mengadopsi mentalitas eksploitasi demi keuntungan pribadi. Ini adalah strategi kapitalisme untuk memastikan bahwa sistemnya terus berjalan dengan memanfaatkan tenaga Intelektual yang telah dijinakkan sejak dalam Kampus.
Sekali sistem ini dibiarkan, Kampus hanya akan mencetak individu yang siap menjadi bagian dari jaringan Oligarki. Bukannya, membela lingkungan dan rakyat, namun mereka Justru Berlomba-lomba masuk Ke dalam Sistem yang menciptakan kehancuran.
5. Resistensi: (Menolak Kampus Sebagai Kaki Tangan Oligarki)
Andre Gorz Percaya bahwa untuk melawan Kapitalisme kita harus menciptakan ruang-ruang pembebasan di Luar Sistem Ekonomi Ekstraktif. Dalam konteks ini, Kampus harus menjadi benteng perlawanan, bukan alat Kapitalisme.
Sebab, Menolak Tambang masuk Kampus bukan hanya soal lingkungan,Tetapi juga tentang mempertahankan kebebasan berpikir, menjaga Otonomi akademik. Dan menolak Kooptasi Ilmu Pengetahuan Oleh Kepentingan Modal. Jika Ini diterima sebagai jalan perbaikan, Maka kita secara sadar Ikut serta dalam perusakan alam dan perbudakan akademik oleh Oligarki.
Mengembalikan Kampus sebagai ruang perlawanan, Bukan malah menyuap tambang masuk Kampus.
Tambang tidak selamanya, Tetapi lingkungan selamanya wajib dijaga. Negara deharusnya tidak melegalkan Agresivitas ambisi Ekonomi tanpa memikirkan dampak Ekologis dan Sosial. Seperti yang dikatakan Gorz, Kita harus melampaui logika kapitalisme dan menciptakan sistem ynng berbasis keberlanjutan, bukan Eksploitasi.
Jika kekuasaan dan “Oligarki” menciptakan comberan, maka tidak mungkin rakyat Yang membersihkannya. Yang harus bertanggung jawab adalah mereka yang telah menciptakan Kehancuran ini. Oleh karena itu, tolak tambang masuk Kampus!.





