HALSEL, TM.com– Kabid Pemberdayaan Perempuan Pengurus Besar Forum Mahasiswa Maluku Utara (PB Formalut) Jabodetabek, Inggrid Nola, secara tegas menyatakan sikap menolak rencana operasional perusahaan PT. Ormat Geothermal di kawasan Talaga Rano, Halmahera Barat.
Penolakan ini didasarkan pada analisis mendalam mengenai dampak lingkungan yang secara spesifik akan memukul kedaulatan hidup kaum perempuan di lingkar tambang.
Inggrid Nola dalam pernyataannya kepada media, Minggu (15/3/2026) menekankan bahwa perjuangan menyelamatkan Talaga Rano bukan sekadar isu lingkungan teknis, melainkan isu kemanusiaan dan gender.
Ia melihat adanya keterkaitan erat antara eksploitasi alam oleh korporasi dengan marginalisasi peran perempuan dalam domestik dan publik.
“Tanah adalah Ibu, Air adalah Darah”
Bagi kami perempuan di Halmahera Barat, Talaga Rano bukan sekadar koordinat geofisika untuk dikeruk energinya. Ia adalah sumber kehidupan. Ketika hutan digunduli dan sumber air terancam oleh aktivitas geothermal, maka pihak yang paling berat menanggung bebannya adalah perempuan.
Inggrid menjelaskan, perempuan memiliki relasi istimewa dengan alam melalui pengelolaan pangan, air bersih, dan obat-obatan herbal.
“Jika ekosistem Talaga Rano rusak, perempuan akan kehilangan akses terhadap air bersih dan hasil hutan, yang memaksa mereka bekerja lebih keras dan menempuh jarak lebih jauh demi keberlangsungan keluarga. Ini adalah bentuk kekerasan struktural terhadap perempuan,”Jelasnya.
Inggrid Nola mengkritik paradigma pembangunan yang hanya melihat “kemajuan” dari kacamata pertumbuhan ekonomi makro, namun buta terhadap kerusakan mikro di tingkat tapak. Karena itu, Ia menyoroti beberapa poin krusial antara lain yakni;
1. Ancaman Ruang Aman: Masuknya industri ekstraktif sering kali diikuti oleh perubahan sosial yang merugikan, termasuk hilangnya ruang aman bagi perempuan dan anak-anak.
2. Dominasi Maskulinitas Korporasi: Proyek PT. Ormat Geothermal dianggap sebagai representasi logika maskulin menaklukkan alam tanpa mempertimbangkan etika kepedulian (ethics of care) yang dijunjung masyarakat adat.
3. Kedaulatan Pangan: Rusaknya wilayah kelola rakyat di Talaga Rano akan menghancurkan kedaulatan pangan yang selama ini dijaga oleh tangan-tangan perempuan tani.
Ia juga mendesak Pemerintah Daerah Halmahera Barat, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, dan Kementerian ESDM untuk segera mencabut izin PT Ormat Geothermal.
“kepada seluruh elemen gerakan perempuan di Indonesia untuk bersolidaritas menjaga Talaga Rano.
Talaga Rano adalah warisan, bukan komoditas. Kami akan terus berdiri di garis depan untuk memastikan PT Ormat Geothermal angkat kaki dari tanah kami,”tandasnya.(tim/red)





