Oleh: Asmar Hi. Daud
Perjuangan untuk menghadirkan Daerah Otonom Baru (DOB) MAKAYOA bukan semata soal cita-cita pemekaran wilayah. MAKAYOA adalah jawaban atas ketimpangan pembangunan yang telah berlangsung lama di kawasan gugus pulau.
Makian, Kayoa, dan Kasiruta. Tiga kawasan ini menyimpan sejarah keterhubungan yang kuat, sekaligus berbagi nasib yang sama—wilayah yang kaya sumber daya namun terpinggirkan dari pusat-pusat kebijakan dan anggaran.
Namun di tengah geliat dan harapan akan masa depan yang lebih baik, masih saja muncul narasi-narasi yang justru melemahkan semangat bersama.
Salah satunya adalah kecenderungan menyeret identitas etnis tertentu ke dalam pusaran perdebatan. Bahkan, ada yang secara pisimis dan menggiring opini seolah-olah masyarakat suku Galela di Pulau Kasiruta menolak atau akan kontra terhadap DOB MAKAYOA. Ini adalah cara berpikir yang bias, menyederhanakan kenyataan sosial, dan berpotensi “membelah solidaritas” warga antar gugus pulau.
Kami ingin menegaskan bahawa perjuangan DOB MAKAYOA tidak boleh diseret ke dalam narasi etno-sentris.
Stop menyebut identitas atau suku tertentu dengan menggunakan logika kekhwatiran kita sendiri. Perbedaan sikap adalah hal wajar dalam demokrasi, tapi menggeneralisasi satu kelompok seolah bersikap seragam—itu keliru dan merusak.
Sebaliknya, kita harus jujur mengakui bahwa keberagaman etnis dan budaya adalah kekayaan sosial gugus pulau ini.
Di Pulau Moari, Kecamatan Kayoa Barat, ada desa-desa pesisir yang dihuni oleh saudara-saudara dari suku Galela, yang telah hidup berdampingan secara sosial dan ekonomi bersama komunitas Makian selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Pun, di Pulau Lata-Lata, masyarakat dari suku Ibu atau Loloda telah berbaur secara damai dengan warga Makian luar, membentuk simpul kehidupan yang saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.
Karena itu, narasi DOB MAKAYOA harus dibangun dari kesadaran kolektif sebagai wilayah kepulauan yang diikat oleh geografis yang sama, sejarah yang saling terhubung, serta harapan untuk masa depan yang lebih adil.
Bukan soal siapa mayoritas dan siapa minoritas. Bukan soal siapa yang dominan dan siapa yang mengikuti. Tapi tentang wilayah-wilayah yang selama ini terabaikan dan termarjinalkan oleh pembangunan dan ingin mengambil dan menata masa depan di tangannya sendiri.
Perbedaan itu nyata, tapi jangan diperlebar. Justru dari keberagaman itu MAKAYOA menunjukkan kekhasannya.
MAKAYOA harus menjadi simbol kesetaraan dan rumah besar bagi semua entitas yang telah lama hidup dan tumbuh bersama di bawah langit gugus pulau.





