Oleh: Adhy Aphoor
Pulau Makian, di Maluku Utara, mungkin tampak kecil di peta Indonesia. Namun bagi warganya, pulau itu adalah dunia.
Segalanya tumbuh dan hidup di sana kebun cengkih yang harum, tradisi adat yang mengikat, dan tentu saja, Gunung Kie Besi yang berdiri kokoh di tengah pulau. Gunung itu bukan sekadar tumpukan batu dan tanah, melainkan simbol kehidupan, pusat spiritual, dan tempat leluhur bersemayam.
Namun semua itu berubah drastis pada 23 Juli 1988, ketika “Kie Besi” memuntahkan amarahnya ke langit.
Letusan dimulai dengan desisan dan getaran. Warga desa awalnya hanya melihat kepulan asap di puncak, lalu batu-batu panas dan debu mulai turun. Hari yang mestinya cerah berubah menjadi kelam, seolah malam turun sebelum waktunya. Awan panas membakar lereng, dan suara gemuruh dari perut bumi membuat tanah seakan bergerak.
Lebih dari 15.000 jiwa harus mengungsi. Warga berlarian menuju perahu, meninggalkan rumah dan kebun. Mereka menyeberang ke Halmahera, Tidore, bahkan hingga ke Ternate. Dalam pelarian itu, mereka membawa pakaian seadanya, anak-anak dalam gendongan, dan kenangan yang tertinggal di kampung halaman.
Evakuasi besar-besaran ini menjadi salah satu momen sejarah penting di Maluku Utara bukan hanya karena skala bencananya, tetapi juga karena semangat gotong royong dan kekuatan budaya yang muncul di tengah krisis.
Bagi masyarakat Makian, letusan Gunung Kie Besi bukan hanya peristiwa geologis, tetapi juga peringatan spiritual. Banyak orang tua adat meyakini bahwa gunung meletus karena manusia mulai melupakan adat, serakah terhadap alam, dan melanggar pantangan leluhur.
Setelah letusan, banyak tradisi adat diperkuat kembali. Ritual atau doa kepada gunung, dilakukan secara berkala. Masyarakat semakin berhati-hati dalam menebang hutan atau membuka lahan. Dalam pandangan mereka, gunung adalah “ayah” dan “ibu” yang bisa murka jika tidak dihormati.
Meski banyak warga Makian menetap di lokasi baru seperti desa transmigrasi Makian Dalam di Halmahera, sebagian memilih kembali. Mereka membangun rumah, membuka kembali kebun, dan memulihkan kehidupan secara perlahan.
Kini, Gunung Kie Besi tetap berdiri gagah, seperti sedang mengawasi. Kadang ia mengeluarkan asap kecil, seperti mengingatkan bahwa ia tidak pernah tidur sepenuhnya. Tapi warga sudah hidup berdamai dengan rasa hormat, bukan takut.
Letusan 1988 menjadi pelajaran besar. Bahwa kehidupan bisa hancur dalam sekejap, tapi juga bisa dibangun kembali dengan kesabaran, warisan budaya, dan keyakinan bahwa tanah ini akan selalu menjadi rumah.





