TERNATE KOTA REMPAH
(Oleh: Ucin Bendar)
================
Apa yang diinisiasi oleh Sekot Ternate, Dr. Rizal Marsaoly, tentang arah kota Ternate pada masa datang dengan mengusung brand “Ternate Kota Rempah”, menarik disimak dan diberikan masukan oleh para pihak.
Tentu, “City Branding” ini, tidak hanya tentang logo atau slogan tetapi lebih pada metode yang memandu serta mensimbiosiskan bagaimana kota sedianya dibangun, dirancang, dan dikelola secara fisik untuk mewujudkan suatu identitas.
Terhadap skema ini, pada sisi desain urban dan arsitektur, “City Branding” sekiranya diterjemahkan melalui fisik kota, seperti bagaimana ruang publik dilakukan rekayasa rancangan sehingga secara visual mencerminkan brand yg diusung.
Sementara dari segi estetika arsitektur, sedapatnya diperkuat dengan panduan atau regulasi agar setiap pembangunan baru (bangunan atau fasad) selaras dengan identitas visual dan karakter lokal yang diusung oleh brand. Begitu juga elemen penanda, seperti penggunan elemen visual brand (logo, warna, dan tipografi) pada papan nama jalan, fasilitas umum, seragam petugas (seperti kebersihan) atau pun transportasi publik.
Sedangkan dalam hal keunggulan kompetitif dan deferensiasi, “City Branding” sebisa mungkin diarahkan pada bagaimana mengkapitalisasi keunikan lokal (sejarah, kearifan lokal, arsitektur khas) dan dimanifestasikan dalam tata ruang agar kota memiliki diferensiasi yg kuat dan otentik.
Sedianya pemikiran besar sang inisiator ini patut mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan sehingga dapat terwujudnya “City Branding” yang memberikan jiwa dan narasi kepada kota.
Sedangkan tata kota (perencanaan dan desain urban) memberikan tubuh dan realitas fisik untuk mewujudkan narasi yang dimaksud. Ketika keduanya diintegrasikan maka “City Branding” tidak hanya sekedar kampanye pemasaran, Nanun hanya melainkan muara dari strategi pembangunan Kota Ternate yang terarah, berkemajuan, dan berkelanjutan. (**)





